Makan Bergizi Gratis
April 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi program unggulan pemerintah Indonesia saat ini, terus menjadi topik diskusi yang hangat. Di lingkungan saya—baik di kantor, tempat tinggal, keluarga, maupun pertemanan—sebagian besar sepakat bahwa MBG memiliki banyak sisi negatif sehingga perlu segera dihentikan atau setidaknya dievaluasi secara menyeluruh.
Namun, suatu hari saya bertemu dengan seorang teman lama yang kebetulan menjadi pemasok (supplier) untuk program MBG beserta keluarga besarnya. Obrolan kami menjadi sangat menarik karena di tengah gelombang kritik negatif, dialah satu-satunya orang dalam lingkaran saya yang memberikan testimoni positif.
Ia berpendapat bahwa MBG telah mengangkat derajat ekonomi di lingkungannya, termasuk bagi para petani dan dirinya sendiri. Petani sayur yang biasanya menghadapi anjloknya harga saat musim panen, kini menikmati harga yang stabil. Pabrik roti rumahan pun terus kebanjiran pesanan. Saat mendengar itu, saya sempat membatin, "Alhamdulillah, akhirnya ada orang yang saya kenal secara langsung merasakan manfaat nyata dari program ini."
Tetapi, selang beberapa hari setelah pertemuan tersebut, saya kembali merenung. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran saya hingga akhirnya saya menyadari keganjilan dari pengalaman teman saya itu.
Saya bersyukur dan ikut senang terhadap manfaat yang teman saya dapatkan, tapi jika ditelaah lebih dalam, dari sudut pandang yang lebih luas, cerita positif tersebut justru memperkuat argumen untuk mengkritisi program ini. Mengapa demikian? Karena dari sudut pandang tersebut, pihak yang paling diuntungkan adalah petani, pabrik roti, dan pemasok. Yang bergerak secara masif adalah roda ekonomi, bukan pemenuhan gizi anak sekolah maupun keluarga prasejahtera.
Jika mengacu pada nama programnya, yaitu "Makan" dan "Bergizi", seharusnya indikator keberhasilannya seperti:
Pengalaman teman saya tersebut justru memperjelas sebuah realitas: Program MBG saat ini lebih terlihat sebagai program stimulus ekonomi bagi para pengusaha atau pelaku rantai distribusi, ketimbang sebuah intervensi kesehatan bagi konsumen akhir yang menjadi sasaran utamanya. Jika manfaat utamanya bergeser ke sektor perdagangan, maka esensi gizi bagi generasi masa depan patut kita pertanyakan kembali.
Namun, suatu hari saya bertemu dengan seorang teman lama yang kebetulan menjadi pemasok (supplier) untuk program MBG beserta keluarga besarnya. Obrolan kami menjadi sangat menarik karena di tengah gelombang kritik negatif, dialah satu-satunya orang dalam lingkaran saya yang memberikan testimoni positif.
Ia berpendapat bahwa MBG telah mengangkat derajat ekonomi di lingkungannya, termasuk bagi para petani dan dirinya sendiri. Petani sayur yang biasanya menghadapi anjloknya harga saat musim panen, kini menikmati harga yang stabil. Pabrik roti rumahan pun terus kebanjiran pesanan. Saat mendengar itu, saya sempat membatin, "Alhamdulillah, akhirnya ada orang yang saya kenal secara langsung merasakan manfaat nyata dari program ini."
Tetapi, selang beberapa hari setelah pertemuan tersebut, saya kembali merenung. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran saya hingga akhirnya saya menyadari keganjilan dari pengalaman teman saya itu.
Saya bersyukur dan ikut senang terhadap manfaat yang teman saya dapatkan, tapi jika ditelaah lebih dalam, dari sudut pandang yang lebih luas, cerita positif tersebut justru memperkuat argumen untuk mengkritisi program ini. Mengapa demikian? Karena dari sudut pandang tersebut, pihak yang paling diuntungkan adalah petani, pabrik roti, dan pemasok. Yang bergerak secara masif adalah roda ekonomi, bukan pemenuhan gizi anak sekolah maupun keluarga prasejahtera.
Jika mengacu pada nama programnya, yaitu "Makan" dan "Bergizi", seharusnya indikator keberhasilannya seperti:
- Berkurangnya tingkat kelaparan di suatu wilayah secara signifikan.
- Terpenuhinya standar nutrisi dan gizi bagi anak-anak sekolah.
- Meningkatnya fokus belajar siswa karena konsumsi gizi yang seimbang (misalnya, rendah gula).
- Berkurangnya kekhawatiran orang tua terhadap kualitas jajanan anak di sekolah yang sering kali tidak terkontrol.
- Berkurangnya pengeluaran harian keluarga untuk makan siang.
Pengalaman teman saya tersebut justru memperjelas sebuah realitas: Program MBG saat ini lebih terlihat sebagai program stimulus ekonomi bagi para pengusaha atau pelaku rantai distribusi, ketimbang sebuah intervensi kesehatan bagi konsumen akhir yang menjadi sasaran utamanya. Jika manfaat utamanya bergeser ke sektor perdagangan, maka esensi gizi bagi generasi masa depan patut kita pertanyakan kembali.
Komentar